13.6 AI Bukan Urusan IT Saja
Budaya belajar ini tidak hanya berlaku untuk IT. Semua fungsi perlu belajar koeksis dengan AI. Saya sering melihat kesalahan klasik di perusahaan besar: ketika CEO mengumumkan inisiatif AI, semua mata langsung tertuju ke departemen IT. "Terserah IT mau pakai AI untuk apa," kata mereka, lalu kembali sibuk dengan spreadsheet dan laporan manual masing-masing.
Padahal, jika Anda bekerja di finance, Anda punya pekerjaan yang sangat cocok untuk AI. Setiap bulan tim Anda menyusun laporan anggaran, membandingkan realisasi dengan forecast, mencari anomali, dan menulis penjelasan untuk setiap deviasi. Ini pekerjaan berulang yang membutuhkan ketelitian tinggi. Dengan AI, Anda bisa meminta asisten untuk membaca data bulan lalu, menemukan pola pengeluaran yang tidak biasa, dan menyusun draft analisis. Anda tinggal memverifikasi dan menambahkan konteks bisnis.
Di legal, situasinya tidak berbeda. Kontrak menumpuk, peraturan berubah, dan setiap dokumen harus diperiksa. AI bisa membaca kontrak, menandai klausul yang berisiko, dan membandingkannya dengan standar perusahaan. Bukan untuk menggantikan pengacara, tetapi untuk mempercepat review sehingga pengacara bisa fokus pada negosiasi dan strategi.
HR juga punya potensi besar. Bayangkan proses rekrutmen: ratusan CV masuk, harus disaring, lalu dicocokkan dengan kebutuhan posisi. AI bisa membantu membaca CV, mengekstrak pengalaman relevan, dan bahkan menyusun pertanyaan wawancara awal. Bukan untuk mengambil keputusan final, tetapi untuk mengurangi beban administratif yang menyita waktu.
Sales dan marketing mungkin yang paling siap. Mereka sudah terbiasa dengan data pelanggan, segmentasi, dan kampanye. AI bisa membantu menulis draft email personalisasi, menganalisis respons pelanggan, dan merekomendasikan waktu terbaik untuk follow-up. Tim sales yang dulunya menghabiskan setengah hari untuk administrasi kini bisa lebih banyak bicara dengan pelanggan.
Lalu apa peran IT di sini? IT tetap penting, tetapi sebagai enabler, bukan sebagai pemilik tunggal. IT menyediakan infrastruktur data, integrasi sistem, keamanan, dan platform AI yang bisa dipakai semua fungsi. Mereka memastikan data dari finance, legal, HR, dan sales bisa diakses dengan aman. Mereka juga menjaga governance agar AI tidak dipakai sembarangan.
Tetapi value AI tidak akan muncul jika setiap fungsi menunggu IT memulai. Yang dibutuhkan adalah inisiatif dari masing-masing fungsi: mengenali pekerjaan mana yang berulang, mana yang bisa dibantu AI, dan mana yang tetap membutuhkan penilaian manusia. IT bisa membantu mewujudkan, tetapi ide harus datang dari orang yang setiap hari menghadapi pekerjaan itu.
Ini membawa kita ke pergeseran yang lebih dalam. Jika setiap fungsi mulai memanfaatkan AI, maka peran manusia di dalamnya juga berubah. Seorang analis finance tidak lagi cukup hanya bisa membuat laporan. Ia perlu bisa merancang prompt yang tepat, memverifikasi output AI, dan menjelaskan hasilnya ke stakeholder. Seorang legal officer perlu paham bagaimana AI membaca kontrak dan di mana batas kepercayaannya.
Perubahan peran ini tidak terjadi dalam semalam. Tapi arahnya jelas: dari pelaksana tugas rutin menjadi pengawas dan pengarah AI. Dan ini bukan hanya untuk programmer atau engineer. Ini untuk semua orang yang bekerja dengan informasi, data, dan keputusan.