23.3 Menyusun Opsi, Bukan Satu Jawaban
Setelah problem statement jelas, langkah berikutnya adalah menyusun opsi solusi yang bisa dipilih, bukan langsung menuju satu jawaban.
Berikut diagram perbandingan tiga opsi solusi yang disebutkan dalam subbab ini:
Kebanyakan engineer terbiasa bekerja dengan pola sebaliknya. Begitu mendengar masalah, otak langsung mencari satu solusi terbaik. Lalu semua energi dihabiskan untuk membela solusi itu. Padahal dalam praktik arsitektur, hampir tidak pernah ada satu jawaban yang sempurna. Yang ada adalah pilihan dengan konsekuensi masing-masing.
Bayangkan Anda sudah sepakat dengan product manager bahwa masalah sebenarnya bukan dashboard real-time, melainkan ketidakmampuan tim sales melihat progress deal harian. Sekarang Anda perlu menyusun opsi. Bukan satu, tapi dua atau tiga.
Opsi pertama: bangun dashboard kustom dari awal. Teknologi terkini, tampilan cantik, fleksibel. Tapi butuh tiga bulan dan dua engineer penuh. Opsi kedua: pakai platform BI yang sudah ada di perusahaan. Lebih cepat, seminggu selesai, tapi tampilannya terbatas dan tidak semua metrik bisa diakomodasi. Opsi ketiga: ekspor data ke spreadsheet otomatis setiap pagi. Gratis, selesai besok, tapi tidak real-time dan tidak interaktif.
Berikut tabel perbandingan ketiga opsi tersebut agar lebih mudah melihat trade-off-nya:
| Opsi | Fleksibilitas | Kecepatan Implementasi | Biaya | Risiko |
|---|---|---|---|---|
| Dashboard Kustom | Tinggi | 3 bulan | 2 engineer penuh | Tinggi |
| Platform BI | Sedang | 1 minggu | Sedang | Sedang |
| Spreadsheet Otomatis | Rendah | Besok | Gratis | Rendah |
Setiap opsi punya trade-off. Opsi pertama unggul di fleksibilitas dan pengalaman pengguna, tapi mahal dan lambat. Opsi kedua menengah di semua dimensi. Opsi tiga cepat dan murah, tapi terbatas.
Tugas arsitek bukan memilihkan opsi terbaik. Tugas arsitek adalah menyajikan opsi-opsi itu dengan jelas, lengkap dengan biaya, risiko, dan konsekuensinya. Biarkan pemangku kepentingan yang memutuskan. Mereka yang tahu prioritas bisnis, anggaran, dan tekanan pasar. Mereka hanya butuh informasi yang cukup untuk mengambil keputusan.
Inilah yang membedakan orang yang membentuk masalah dari orang yang hanya membawa satu jawaban. Pola kerja yang mentah datang dengan satu jawaban dan berharap disetujui. Pola kerja yang matang datang dengan beberapa opsi dan membantu orang lain memilih.
Untuk menyusun opsi secara efektif, Anda perlu decision framework yang sederhana. Tidak perlu rumit. Cukup tiga dimensi: effort, value, dan risiko. Effort mencakup waktu, biaya, dan sumber daya. Value mencakup manfaat fungsional dan dampak bisnis. Risiko mencakup ketidakpastian teknis, ketergantungan, dan potensi kegagalan.
Dengan framework ini, setiap opsi bisa dibandingkan secara objektif. Opsi A mungkin cepat tapi berisiko tinggi. Opsi B lebih mahal tapi risikonya rendah. Opsi C ada di tengah-tengah. Pemangku kepentingan bisa melihat peta keputusan dengan jelas.
Catatan pentingnya: menyusun opsi bukan berarti Anda harus selalu punya tiga opsi. Kadang dua cukup. Kadang satu opsi plus varian. Yang penting ada pilihan, bukan ultimatum.
Setelah opsi tersusun, langkah berikutnya adalah memeriksa apa saja yang bisa menghambat eksekusi. Karena opsi terbaik sekalipun akan gagal jika ketergantungannya tidak teridentifikasi sejak awal. Di sinilah pembahasan bergerak ke dependency.