4.2 Melihat Organisasi dari Berbagai Lensa
Setelah kita sadar bahwa tidak semua ide bisa dikerjakan, kita perlu cara melihat organisasi dari berbagai lensa agar tidak melewatkan peluang penting. Masalahnya, sebagian besar organisasi hanya melihat dari satu atau dua lensa saja. Biasanya lensa departemen. Marketing mengusulkan ide marketing. Operasi mengusulkan ide operasi. IT mengusulkan ide IT. Padahal, inisiatif bernilai tinggi sering muncul justru di persimpangan antar fungsi, atau dari tempat yang tidak biasa dilihat.
Coba bayangkan rapat portfolio tahunan di perusahaan Anda. Siapa yang biasanya hadir? Kepala departemen, mungkin beberapa direktur. Setiap orang datang dengan daftar keinginan masing-masing. Yang tidak hadir adalah suara dari lensa lain: lensa lini bisnis yang mungkin punya prioritas berbeda, lensa channel yang melihat bagaimana pelanggan berinteraksi, atau lensa produk yang melihat siklus hidup fitur. Akibatnya, inisiatif yang bersifat lintas fungsi sering jatuh di antara celah.
Kita perlu sadar bahwa setiap lensa memberi cara pandang berbeda terhadap apa yang bernilai. Lensa departemen melihat efisiensi dan beban kerja tim sendiri. Lensa lini bisnis melihat pendapatan dan pangsa pasar. Lensa channel melihat pengalaman pelanggan di titik kontak tertentu. Lensa capability melihat kemampuan organisasi yang perlu dibangun atau diperkuat. Lensa produk melihat siklus hidup dan health masing-masing produk. Lensa platform melihat fondasi teknologi yang perlu dirawat. Masing-masing lensa ini bisa menghasilkan kandidat inisiatif yang tidak terlihat oleh lensa lain.
Ambil contoh lensa knowledge work. Banyak organisasi tidak sadar bahwa tim legal, compliance, HR, dan support menghabiskan waktu luar biasa untuk mencari informasi, menyusun dokumen, dan menjawab pertanyaan berulang. Jika Anda hanya melihat dari lensa departemen, Anda mungkin menganggap pekerjaan itu sudah efisien. Tapi jika Anda melihat dari lensa knowledge work, Anda akan melihat pola: dokumen yang sama dicari oleh banyak orang, pertanyaan yang sama dijawab berulang, dan proses review yang memakan waktu karena informasi tersebar. Di sinilah AI bisa masuk dengan lensa yang berbeda.
Lensa operasi juga sering terlewat. Orang melihat operasi sebagai urusan rutin yang sudah berjalan. Padahal, di operasi lah banyak proses manual yang menunggu otomatisasi. Rekonsiliasi data, verifikasi dokumen, pengajuan persetujuan, dan pelaporan periodik adalah lahan subur untuk inisiatif berbasis AI. Tapi karena operasi jarang dianggap sebagai sumber inovasi, ide-ide ini tidak pernah muncul di meja portfolio.
Lensa finance, legal, audit, dan risk juga punya potensi besar. Fungsi-fungsi ini biasanya dianggap sebagai cost center atau pengawas, bukan sumber inisiatif. Padahal, mereka punya data, proses, dan knowledge work yang bisa diungkit. Seorang kepala legal mungkin tidak pernah berpikir untuk mengusulkan inisiatif AI karena merasa itu urusan IT. Tapi jika organisasi melihat dari lensa legal, akan terlihat bahwa review kontrak, due diligence, dan penelitian regulasi bisa diotomatisasi sebagian dengan AI.
Yang menarik, inisiatif dari lensa yang jarang dilihat sering punya effort rendah dan value tinggi. Mengapa? Karena tidak ada yang menyentuhnya sebelumnya. Kompetisi rendah, potensi besar. Inilah yang membuat portfolio inisiatif menjadi lebih kaya jika kita bersedia memutar lensa.
Praktiknya, Anda bisa mulai dengan membuat daftar lensa yang relevan untuk organisasi Anda. Tidak perlu semua sekaligus. Cukup tambahkan satu atau dua lensa baru setiap siklus portfolio. Misalnya tahun ini Anda menambahkan lensa knowledge work dan lensa channel. Tahun depan lensa capability dan lensa platform. Setiap lensa baru akan membuka sumber inisiatif yang sebelumnya tidak terlihat.
Sebagai gambaran, berikut peta enam lensa utama yang bisa Anda gunakan untuk memindai peluang inisiatif di organisasi.
Setelah kita bisa melihat organisasi dari berbagai lensa, tantangan berikutnya adalah menilai mana yang layak dikerjakan. Tidak semua inisiatif yang muncul dari lensa baru otomatis bernilai. Kita perlu cara membandingkan value, effort, dan bagaimana AI bisa mengubah perhitungan effort. Pintu masuknya ada di subbab berikutnya.
